Turut berduka atas kejadian yang sebetulnya bukan lagi masalah asing di negeri ini. Efek dari ketergantungan kita yang amat sangat dan rendahnya bargaining power kita thd “orang-orang luar ini” akhirnya terjadi lg dengan hengkangnya salah satu investor asing yang telah menghidupi banyak karyawan di indonesia. Sebetulnya ini salah siapa?

Investor punya hak untuk masuk dan keluar kapan saja ke bidang dan negara mana pun yang diminati. Jadi agak sulit jika setelah kejadian ini kita masih berharap ia untuk kembali berinvestasi apalagi sejauh saya lihat fenomena “mencari negara yang lebih kondusif” yang sebetulnya adalah “mencari negara dengan biaya yg lebih murah untuk berinvestasi” telah menjadi alasan ia tuk hengkang. Masalah kualitas pun akhirnya hanyalah dalih untuk sekedar memenuhi etika bisnis ketika ditanya orang. Seharusnya para karyawan mendemo pimpinan perusahaan mereka yang ternyata tidak bisa menyikapi masalah ini. Jika memang kualitas dipandang bukan masalah, kenapa perusahaan tidak berinisiatif membuat merk sendiri atau mungkin mencari customer lain guna mempertahankan nasib karyawannya.

Belajar dari industri lain yaitu otomotif yang kini sedikit demi sedikit telah ditinggalkan oleh investornya karena negara lain dipandang lebih murah untuk memproduksi berbagai macam jenis kendaraan, para supplier otomotif tsb jauh-jauh hari sudah mulai memikirkan cara untuk mempertahankan sumber daya yang sudah terlanjur diinvestasikan untuk membuat produk di luar bidang usahanya. Tidak tanggung-tanggung, dari membuat perlengkapan kendaraan bermotor mereka memodifikasi produknya menjadi bagian-bagian kecil dari produk mainan anak-anak yang kini tengah mereka supply ke produsennya ataupun membuat produk rumah tangga lainnya yang sekiranya dapat dititipkan dan dijual melalui toko-toko kelontong berukuran besar (hypermarket). Hal-hal tersebut kemudian memperlihatkan bahwa semua kembali kepada usaha kita masing-masing. Sekarang tinggal bagaimana kita mau berusaha, mandiri, dan tentunya kembali lagi bahwa pemerintahlah yang harus menjadi “Ayah”, agar kedepannya kita terbebas dari hal-hal yang merugikan kita sebagai tuan tanah yang bekerja di ladang sendiri.

Sumber bacaan:

Ribuan Buruh Demo Keputusan Nike – Media Indonesia 
Perwakilan Buruh Bertemu Manajemen Nike – Metro TV News