Image Hosted by ImageShack.us

“Dureeeeeeeeeeeeeen!!”, jerit gw senantiasa dimanapun ketika menemuhan bulatan2 sebesar kepala nan berduri ini. Sebagai penggila duren, gw berani menyimpulkan bahwa the “King of Fruits” dari pekanbaru ini paling enak dibanding duren manapun yang pernah gw makan, sekalipun duren montong yang harganya amit2 itu. Duren dari pekanbaru rada beda sama duren medan (yang menurut gw termasuk paling enak nomor 2 setelah duren pekanbaru, itu masalah selera jg sih). duren medan dagingnya lebih tipis dan cenderung pahit saking legitnya. kl duren pekanbaru dagingnya tuebel dan muanisss bukan main. kl lewat jl. sudirman jangan lupa tengok kiri kanan, sapa tau nemu kios durian. soal harga, kl ga salah ga beda jauh sama harga di jakarta, kl pun lebih murah barang kali ga semurah duren medan atau lampung yg katanya bs turun harga gila2an kl lg musimnya.

Image Hosted by ImageShack.us

Nah, kl ngomongin duren, ga lengkap kl kita ga baca literatur biologisnya. Menurut wiki, duren/durian/king of fruits termasuk dalam genus Durio dan famili Malcaceae (tnyata masih satu keluarga sama pohon kapas, cmiiw). dalam genus Durio ini terdapat sekitar 30 species yang semuanya tumbuh menyebar di wilayah Asia Tenggara. Umumnya ukuran duren dapat mencapai panjang 30 cm dan diameter 15 cm dengan berat sekitar 1-3 kg. warna kulit dapat bervariasi dari hijau, kuning hingga merah tergantung jenis spesiesnya. Pohon durian umumnya besar2. tingginya bisa mencapai 25-50 meter. daunnya hijau dengan ukuran sekitar 10-18 cm.

Menilik sejarah ditemukannya durian (masih menurut wiki), tnyata sudah sejak jaman prasejarah buah ini sudah ditemukan dan dimakan oleh orang2 yang hidup di asia tenggara. tulisan orang eropa yang pernah ditemukan pertama kali adalah milik Nicolo Conti yang pernah singgah ke asia tenggara pada abad 15. selanjutnya tahun 1741 seorang botanis jerman kembali menulis tentang durian secara lebih rinci.

Buat orang Indonesia, tnyata duren tidak hanya dikenal sebagai buah tp juga biasa dihidangkan sebagai makanan menu utama, seperti di palembang, daging duren yang diolah jadi tempoyak biasa dimakan pakai nasi. buat gw duren diapa2in tetep aja enak. baunya yang tajam, rasanya yang manis, merupakan kombinasi yang paling pas untuk mendefinisikan duren sebagai raja dari buah2an. tapi herannya, di Thailand sana, yaitu Dr. Songpol Somsri, sengaja mengutakatik bibit duren supaya menghasilkan durian tanpa bau / stinkless durian (apa enaknya yaaa).

Ngomong2 soal Thailand, beberapa kekecewaan gw yang muncul thd kebijakan pemerintah Indonesia, antara lain soal duren ini. kenapa kok Indonesia yang punya banyak pohon duren ini kalah tenar sama negara lain terutama Thailand. kenapa kok duren pekanbaru ato duren medan ini akhirnya kalah pamor sama duren monthong yang kl dijual di supermarket harganya amit2. tp tetep aja masih banyak yang beli. kenapa coba… kenapa…??