Kedatanganku ke Bali kali ini (4/3) disambut dengan bau amis yang amat sangat. Sesaat setelah pintu pesawat dibuka, angin dengan bau khasnya ini langsung terhembus dan mengingatkanku saat mendarat di muara karang setelah tidak mandi 2 hari di pulo seribu. sekalipun berada ditepi laut, tidak biasanya bandara dilingkupi bau semacam ini. belum selesai bernafas lega di mobil yang menjemput kami, dikabarkan bahwa bau serupa akan semakin parah di hotel yang kebetulan bersebelahan dengan pantai kuta (oh tidaaaak!)

Usut punya usut, ternyata penyebab bau tsb berasal dari matinya ribuan ikan di laut yang terseret ke pinggir pantai. sekilas aku teringat banyaknya kapal karam akhir2 ini. mungkin saja minyaknya tumpah trus mematikan ikan2 sampai ke perairan bali. ternyata bukan itu penyebabnya. kali ini fenomena bernama red tide yang diduga menjadi biang keroknya.

Istilah red tide atau gelombang merah ini timbul akibat melonjaknya populasi fitoplankton sejenis alga gymnodinium dan perdinium yang sangat beracun dan diduga menjadi penyebab matinya ikan2 ketika plankton itu dimakan. Balipos menyebutkan, red tide yang rutin terjadi di bali setiap 4-5 tahun kali ini tidak hanya disebabkan oleh kedatangan El-Nino tetapi ditunjang juga oleh naiknya kandungan nitrat di dalam air melebihi kondisi normal akibat masuknya limbah ke laut. Apapun penyebabnya, yang jelas hawa pantai kali ini, ditambah lembabnya angin membuat kamar hotel lebih menarik tuk ditempati ketimbang jalan2 mengelilingi pantai atau sedikit menepi ke daerah kota seperti denpasar dan renon. herannya, orang2 bilang, bule2 itu nyante banget maen ke pantai seperti halnya tidak terjadi apa2. sepertinya mereka lebih terbiasa dengan baunya ketimbang kita🙂