Januari 2007


Image Hosted by ImageShack.us

Melancong ke tanah Batak, pastilah terngiang nama danau toba. awalnya sewaktu pertama kali singgah ke medan, gw mengira toba itu dekat. nyatanya tidak. gw baru berkesempatan ke toba setelah 3 kali berkunjung ke medan. Tepatnya tanggal 31 Agustus 2006, gw bersama rombongan dari kantor berangkat menuju toba dari medan. perjalanan kali ini melewati jalur brastagi. ampuuun, gw ga mau lg lewat jalur ini. kelok2nya jalan bikin mual ga karuan. mana perjalanan pun kian panjang dan serasa tak sampai2. dari jam 7 pagi berangkat, kita baru sampai di Parapat sekitar jam 2 siang! di Parapat agaknya sedikit terhibur, pas bangun dari tidur gw melihat air, dan dengan spontan gw teriaki “lauuut!”.

Image Hosted by ImageShack.us
(lebih…)

Iklan

Taman Ayun diterjemahkan sebagai taman yang indah. kolam yang luas disekeliling pura dulunya sering dipakai oleh dayang-dayang puri kerajaan dengan perahu kecil. kolam ini pula yang ternyata aga menyulitkan gw waktu mencari angle tuk mengabadikan kecantikan pura ini, karena dikelilingi pagar dan tidak boleh dilewati. Taman ayun terletak di desa Mengwi Badung, sekitar 18 km barat laut Denpasar (atau 25 menit jika berkendaraan).

Image Hosted by ImageShack.us

Mengutip pemaparan sebuah sumber, Pura Taman Ayun dibangun pada abad 17 (konon dibangun tahun 1634) oleh raja pertama Kerajaan Mengwi Tjokerda Sakti Blambangan dengan arsitek yang berasal dari cina. Awalnya pura ini didirikan karena pura2 yang saat itu tersedia jaraknya terlalu jauh untuk dijangkau oleh masyarakat Mengwi.
(lebih…)

Image Hosted by ImageShack.us

Pura yang dikelilingi oleh hutan (alas) dengan kera2 keramat ini berlokasi di kecamatan Marga 4 km dari kota Tabanan. saat memasuki area ini, terlihat beberapa pemandu yang siap menemani kita berkeliling. sembari berbekal kacang buat para kera, kita berjalan mengitari Pura. hebatnya, para kera itu berpenciuman sangat tajam. kacang yang diumpetin di lipatan baju paling dalam sekalipun akan tetap tercium. kera2 akan langsung mendekat dan terus merengek sampai kita keluarkan kacangnya. pemandu menjelaskan, kera2 yang tinggal disitu tidak akan menggigit kecuali jika diganggu. saking ati2nya kita bahkan dilarang memegang. walhasil saat para kera itu beraksi, tak satupun dari kita berani mengusir apalagi megang. termasuk saat salah satu monyet merogoh isi tas salah seorang pengunjung yang tengah berpose 🙂

Image Hosted by ImageShack.us
(lebih…)

Terletak di desa Beraban atau 13 km sebelah barat Tabanan, Pura Tanah Lot hampir selalu ditawarkan oleh setiap pemandu wisata di Bali untuk dikunjungi. Tempat yang asik tuk memotret sunset ini (sambil duduk2 dan minum kelapa muda) memiliki keunikan antara lain lokasi pura yang berada diatas bukit batu besar pinggir laut. pada saat air surut dan tingginya tidak lebih dari selutut, kita masih bs nyebrang menuju tempat itu.

Image Hosted by ImageShack.us

Menurut sebuah sumber tersebutlah legenda dari kisah perjalanan pendeta asal Jawa Timur bernama Dang Hyang Nirartha yang tengah menuju ke timur untuk menyebarkan ajaran Hindu. Sampai pada suatu saat, Dang Hyang Nirartha tiba di salah satu pantai dengan pulau kecil ditengah lautnya dengan tanah parangan dan bebatuan keras di bawahnya. di tempat itulah sang pendeta beristirahat dan tak lama kemudian datang para nelayan membawa sesembahan untuknya. kemudian di tempat itu Dang Hyang Nirartha menyampaikan ajaran agamanya dan menyarankan masyarakat sekitar tuk membangun tempat suci di pulau tempatnya menginap. Sepeninggal sang pendeta, masyarakat membangun tempat suci di atas pulau dengan nama Pura Luhur Tanah Lot yang artiya tanah di tengah laut.
(lebih…)

Image Hosted by ImageShack.us

Berlawanan dengan pantai Kuta, Sanur berada di sebelah timur (25 menit dari bandara). Pantai yang cenderung tenang dan lebih banyak dikunjungi turis2 berusia senja ini enak dinikmati pagi2 sambil nunggu sunrise. nuansanya unik, banyak nelayan yang mencari ikan dsana. kl air lg surut (biasanya pagi), pantainya terlihat bopeng2. airnya yang bening sering mengijinkan kita mengintip ikan2 kecil dan kepiting yang tengah berjemur.

Image Hosted by ImageShack.us

Mengutip dari sebuah sumber, dahulu kala tahun 1904, kapal Cina milik Belanda bernama Sri Komala kandas di pantai ini. (lebih…)

Image Hosted by ImageShack.us

Garuda Wisnu Kencana, atau GWK, merupakan patung Dewa Wisnu yang berdiri tegak di Bukit Ungasan Jimbaran Bali (selatan bandara). Patung buatan seorang lulusan ITB bernama I Nyoman Nuarta ini konon akan ditata diatas patung Garuda setinggi 75 meter dengan keseluruhan tinggi patung mencapai 145 meter dan mengalahkan tinggi Liberti (yg hanya setinggi 151 kaki atau sekitar 46 meter, cmiiw). Letak patung yang berada dibukit kapur dengan ketinggian 300 dpl ini kemudian akan menyambut siapapun yang hendak mendarat di pulau Bali.

Image Hosted by ImageShack.us

Sejak dibangun tahun 1997, sampai dengan saat ini kondisi patung baru selesai 15 % yang terdiri dari patung Dewa Wisnu dan Kepala Garuda. seperti yang dituliskan harian pikiran rakyat tahun lalu, SBY mengharapkan proyek ini kelar 20 Mei 2008 mendatang. Pembangunan yang tengah terhenti ini menemui beberapa kendala antara lain masalah pendanaan yang konon masih memerlukan setidaknya Rp 600 miliar. Apalagi sejak terjadinya bom bali tahun 2002 sejumlah investor batal melakukan pendanaan.
(lebih…)

Kalau di Kuta kita biasa liat sunset, di Nusa Dua kita bs berburu sunrise. rimbun dengan hotel2 mewah yang langsung berada di bibir pantai, menurut gw tempat ini enak  buat bulan madu (apalagi relatif lebih sepi jika dibanding dengan kuta). Lantaran banyak hotel mewah itulah, akhirnya tempat ini pun nampak kali ke-elit-annya.

Image Hosted by ImageShack.us

Nusa Dua berlokasi di ujung selatan Bali menghadap ke timur, 10 km/20 menit dari airport. Di sekeliling pantai, kontur jalan naik turun dengan batu karang gamping dimana2. masyarakat sekitar banyak yang berprofesi sebagai petani rumput laut. Fyi, menurut Biro Pusat Statistik sebagaimana dituliskan oleh sebuah sumber, Indonesia merupakan salah satu negara penghasil dan pengekspor rumput laut yang cukup penting di Asia, dan 2.5% produksi rumput laut di Indonesia berasal dari hasil budidaya Eucheuma spinosum di Bali.

Image Hosted by ImageShack.us

Laman Berikutnya »