Kamu pasti pernah dengar seorang Laksamana Tionghoa bernama Cheng Ho, yang dulunya berlayar dan singgah di Semarang (tepatnya di daerah Simongan, barat daya Semarang). Ditempat singgahnya ini skr berdiri sebuah klenteng untuk meperingati Laksamana Cheng Ho bernama Klenteng Sam Po Kong atau beberapa menyebutnya Klenteng Gedong Batu (karena berada di  gua batu besar yang terletak di sebuah bukit batu).

Image Hosted by ImageShack.us

Menurut sebuah sumber, Laksamana Cheng Ho adalah seorang nahkoda Muslim dari China yang tengah berlayar menjelajah dunia untuk berdagang sambil menyebarkan ajaran Islam. Berhubung Cheng Ho adalah seorang tokoh yang berasal dari daratan China, maka klenteng yang berdiripun kini digunakan sebagai tempat kegiatan pemujaan dan pencarian peruntungan sebagaimana tradisi-tradisi yang biasa dijalankan oleh masyarakat keturunan China hingga saat ini. Padahal menurut Ir. Setiawan dalam bukunya ‘Mengenal Kelenteng Sam Po Kong Gedung Batu Semarang’, tempat ini dulunya merupakan sebuah Masjid.

Image Hosted by ImageShack.us

Sumber yang sama sempat mempertanyakan, apakah Cheng Ho dan Sam Po Kong adalah orang yang sama. Katanya Cheng Ho yang bernama lain Mahuan adalah keturunan Mongol (bukan China) yang menjabat sebagai nahkoda kapal. Sedangkan Sam Po Kong merupakan pemilik kapal niaga tsb. So, keduanya merupakan tokoh yang berbeda. Kedua tokoh ini dipercaya memiliki misi yang sama yaitu menyebarkan agama Islam disepanjang kegiatan berdagangnya (walaupun sampai skr, bukti penyebaran ajaran tsb belum ditemukan).

Sumber lain mengemukakan fakta sebaliknya, dimana Cheng Ho dan San Po Kong adalah tokoh yang sama. Konon, Laksamana Cheng Ho/Zheng He mendapat penghargaan dan diangkat menjadi Thai Kam dengan gelar San Po/Sam Po (Thai Kam merupakan pejabat yang dekat dengan keluarga Kaisar). Sejak tahun 1431 itulah, Cheng Ho lebih dikenal dengan gelar Sam Po Kong/Sam Po Toa Lang atau Dewa Tiga Pusaka atau Tri Ratna.

Image Hosted by ImageShack.us

Di Klenteng ini terdapat sebuah jangkar kapal yang dipercaya sebagai jangkar kapal milik Cheng Ho dan kerap disembah dan disembayangi warga keturunan China untuk mendapatkan berkat dan rejeki. Di dekat gua jg terdapat makam Dampu Awang, seorang juru mudi Cheng Ho yang ramai diziarahi kaum muslim jawa.

Image Hosted by ImageShack.us

Ada fakta menarik yang dikemukakan oleh sebuah sumber. Pada tahun 1431, terdapat beberapa buku untuk penyebaran agama Islam dituliskan oleh pembantu Cheng Ho seperti Haji Ma Huan dan Haji Feh Tsing yang pandai berbahasa Arab dan bertindak sebagai penerjemah dan mencatat segala sesuatu ttg negara2 yang dikunjungi. Namun tulisan2 yang pernah tersiman di klenteng ini selama 400-500 tahun dirampas oleh Residen Poortman pada tahun 1928 dengan alasan menumpas komunis. Dari 3 gerobak catatan yang dirampas, diantaranya terdapat tulisan yang menceritakan peran orang2 Tionghoa dalam penyebaran agama Islam dan pembentukan sejumlah kerajaan Islam di Jawa (seperti kerajaan Demak dengan raja Raden Patah alias Jin Bun). Namun beberapa peneliti yang meragukan hal ini karena setelah meninjau denah dan tata letak ruang di Klenteng Sam Po Kong, sepertinya tidak dokumen sebanyak itu aman tersimpan ratusan tahun di tempat seperti itu.

Image Hosted by ImageShack.us

Pada tahun 1450-1475, setelah dinasti Ming menutup diri dan armada perangnya dimusnahkan serta orang2 Tionghoa dilarang pergi dari daratan Tiongkok maka pengaruh dan pengikut Islan di kalangan orang2 Tionghoa di pesisir utara Jawa menyurut. Masjid2 Tionghoa banyak berubah fungsi menjadi klenteng, dan salah satunya adalah Klenteng Sam Po Kong.