Cari oleh2 di jogja, pastilah orang2 rekomen ke malioboro. mereka ga salah. di sepanjang jalan yang menghubungkan rel kereta api stasiun tugu dan pasar bringharjo ini, pelancong bs cari byk pernak pernik tradisional khas jogja. lengkap, dari batik ampe gantungan kunci. kl mo cari kaos2 bertulisan nyleneh kamu bs beli produk Dagadu di ground floor Malioboro Mall. kl perut mulai lapar, kalian bs mampir cari cemilan didepan pasar bringharjo. di dalam pasar bringharjo pula kalian bs cari berbagai celana or baju batik nan murah meriah. kl betah keluar masuk pasar, kalian jg bs nemuin byk tas2 anyam dengan harga miring. so, kl mo sukses belanja di malioboro, kuncinya cuma satu, yaitu NAWAR!!! lebih bagus lagi kl kalian bs bahasa jawa.

o iya, kl mo makan lesehan, jangan lupa cek harga sebelum membeli. konon banyak warga non-jawa yg nyesel makan di malioboro setelah mengetahui harga yang mereka harus bayar tidak sesuai dengan yang mereka bayangkan. makanan2 lesehan kl malam juga tersedia di jalan mataram (belakang malioboro mall).

Image Hosted by ImageShack.us


Berhubung gw lupa motret suasana (baca: ramenya) jalan malioboro, gw sempet nemu situs yang memuat foto malioboro tempo dulu. check here. Sambil liat foto2 disitu, gw pengen nambain cerita ttg malioboro yang gw kutip dari sebuah sumber di internet.

Jalan Malioboro yang terletak 800meter di utara Kraton Yogyakarta, dulunya dipenuhi karangan bunga setiap kali keraton melaksanakan perayaan. sehingga jalan inipun hingga kini dinamakan malioboro yang dalam bahasa sansekerta berarti “karangan bunga”. jalan ini jg merupakan bagian dari “garis imaginer” yang menghubungkan Kraton, Tugu, dan Merapi, dan sejarah berawal dari berdirinya pasar tradisional pada tahun 1758 yang dipelopori oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I.

Disepanjang jalan ini, pelancong tidak hanya disodori cinderamata dan makanan khas dari jogja. jalan malioboro juga menyisakan tempat2 bersejarah yang bs dikunjungi. antara lain, Grand Hotel de Djogja yang berdiri sejak tahun 1908 dan pernah menampung para petinggi Belanda dan kamar 911/912 sempat dijadikan markas TKR dibawah pimpinan Jendral Sudirman. Hotel ini kini bernama Inna Garuda dan terletak di sudut utara jalan malioboro. Di selatan malioboro, ada sebuah benteng bernama Vredeburg yang dulunya dipakai sebagai basis perlindungan belanda dari serangan pasukan Kraton. Benteng ini dibangun tahun 1765 dan memiliki menara pemantau di empat penjuru yang dulunya dipakai sebagai sebagai tempat patroli. Tepat didepan benteng, terdapat Gedung Agung yang pernah menjadi kediaman Kepala Administrasi Kolonial Belanda tahun 1946-1949 serta pernah juga jadi Istana Negara saat ibukota Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta.