Nama Yogyakarta timbul setelah terjadi penggabungan wilayah keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman pada tahun 1945 sekaligus memproklamirkan diri sebagai bagian dari wilayah Republik Indonesia dan resmi bergelar Daerah Istimewa (DI) sejak tahun 1950.

Image Hosted by ImageShack.us

Sejarah awalnya terjadi pada tahun 1755 ketika Mataram pecah menjadi Ngayogyakarta Hadiningrat dan Surakarta Hadiningrat melalui perjanjian Giyanti, dimana Surakarta Hadiningrat kini lebih dikenal sebagai Kota Solo. Perjanjian Giyanti dibuat akibat adanya pertikaian hasil hasutan Belanda thd salah satu putra Sri Sunan Paku Buwono II dengan adiknya. Isi pokoknya disebut Palihan Nagari (pembagian kerajaan menjadi dua), yang satu menjadi di bawah pemerintahan putra Sunan Paku Buwono II dan lainnya di bawah pemerintahan adik kandung Sunan Paku Buwono II yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I.


Tahun 1813, Sultan Hamengku Buwono I menyerahkan wilayah bagian barat sungai progo (Kadipaten Pakualaman) kepada putranya yaitu Pangeran Notokusumo yang kemudian bergelar Sri Paku Alam I. Dan baru kembali bersatu setelah proklamasi 1945.

Mengutip situs resmi Pemda DIY, dikatakan bahwa Ngayogyakarta adalah nama yang diberikan oleh Paku Buwono II sebagai pengganti nama pesanggrahan Gartitawati. Yogyakarta berarti Yogya yang kerta, Yogya yang makmur, sedangkan Ngayogyakarta Hadiningrat berarti Yogya yang makmur dan yang paling utama. Sumber lain mengatakan, nama Yogyakarta diambil dari nama (ibu) kota Sanskrit Ayodhya dalam epos Ramayana.

Image Hosted by ImageShack.us

Tuk para pelancong, belom afdol kl ke jogja ga mampir ke kraton. Keraton Yogyakarta merupakan kraton terbesar dari empat istana yang berada di Jawa Tengah dan disinilah Gubernur DIY Hamengku Buwono X beserta keluarganya tinggal. Di dalamnya jg terdapat Museum Kraton dan Museum Kereta Kraton yang bs dikunjungi.

Bagian luar terdapat benteng baluwarti yang mengelilingi kraton dan cepuri di bagian dalamnya. Benteng kraton memiliki 5 gerbang utama yaitu Nirbaya, Jagabaya, Jagasura, Tarunasura, dan Madyasura. Ada yg unik dari kepercayaan masyarakat jogja yang hingga kini masih mereka yakini kebenarannya, yaitu adanya garis imajiner bermakna filosofis simbolis yang menghubungkan Gunung Merapi, Tugu, Kraton, Panggung Krapyak, dan Laut Selatan. Secara simbolis garis ini melambangkan keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia serta manusia dengan alam. Tuk penjelasan lengkapnya kalian bisa masuk ke tulisan tmn2 dari UKDW disini.

Bagi kalian yang pengen baca2 lagi ttg sejarah2 yang ada di pulo jawa termasuk yogyakarta, coba deh liat2 kesini.