Jalan2 di jakarta tu ga ada abisnya. kl skr lu bingung cari tempat maen dan mentoknya ke mall melulu, kynya udh saatnya lu merubah arah perjalanlu ketempat2 lain yg sebenernya ga kalah menarik dan bermanfaat. Kebetulan jakarta punya sekitar 60 museum dengan 7 diantaranya dikelola oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Image Hosted by ImageShack.us

Sekali itu gw pernah berkesempatan ikut tournya Sahabat Museum dengan judul Plesiran Tempo Doeloe ke Bank Djadoel di Batavia tgl 28 Agustus 2005. Walopun jalan kaki panas2 keliling kota, tp gw seneng. kapan lagi gw bs masuk ke gedung2 yg kl lewat sekilas pasti gw ga bakalan tertarik tuk masuk.


Image Hosted by ImageShack.us

Perjalanan dimulai dari seberang stasiun kota (kata orang dulu di Stationplein 1, Binnen Nieuwpoortstraat) yaitu di gedung bergaya art deco bernama Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) yang jg dikenal dengan nama factorij ato kl skr kita sebut sebage Museum Bank Mandiri. Gedung bank kolonial belanda ini dirancang oleh J.J.J de Bruyn dan A.P van der Linde dan dibangun pada tahun 1929 oleh Biro Konstruksi NV Nedam serta diresmikan pada tanggal 14 Januari 1933 oleh C.J Karel van Aalst, presiden NHM ke-10 di Batavia.

Image Hosted by ImageShack.us

Seiring berakhirnya masa penjajahan Belanda, maka pada tahun 1942 NHM pun ditutup dan baru dibuka lagi tanggal 14 Maret 1946. Permerintah kemudian menasionalisasi pada tahun 1960 dengan meleburnya menjadi Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN), sehingga bank ini difungsikan sebagai kantor pusat BKTN tuk urusan ekspor impor. Tahun 1965 gedung ini diubah jadi Kantor Pusat BNI kemudian menjadi Bank Exim tahun 1968. Baru di tahun 1998 dijadikan gedung milik Bank Mandiri setelah BBD, BDN, Bank Exim, dan Bapindo di merge jadi Bank Mandiri.

Image Hosted by ImageShack.us

Berlanjut ke bangunan berikutnya. kl kita jalan dari pintu besar utara ke arah hayam wuruk gajah mada, ato dulunya dari Binnen Nieuwpoort Street ke arah Molenvliet, kita bs nemuin Nederlandsch Indische Escompto Maatchappij yang didirikan pada tahun 1857 kemudian dinasionalisasi menjadi Bank Dagang Negara pada tahun 1960. singkatnya kita biasa nyebut Eskomto dan adanya di deket Museum Sejarah DKI (Museum Fatahillah). Konon eskomto merupakan salah satu bank tertua dan terbesar kedua di indonesia setelah De Javasche Bank (skr Bank Indonesia).

Image Hosted by ImageShack.us

Satu lagi museum yang waktu itu didatengin yaitu Museum Sejarah Jakarta. Mungkin karena terletak di jalan taman fatahilah kita pun akhirnya lebih akrab menyebutnya Museum Fatahilah.

Museum diresmikan oleh Gubernur Ali Sadikin pada tanggal 30 maret 1974 dengan luas wilayah 13.000 meter persegi dan dulunya dipake sebagai Stadhuis atau balai kota. Bangunan dibuat dengan gaya Barok klasik dengan 3 lantai pada tanggal 25 Januari 1707 oleh Petronella Wilhelmina van Hoorn putri Gubernur Jendral Hindia dan selesai tahun 1710. Sebagai Stadhuis, bangunan ini dahulu dipakai sebagai kantor, ruang pengadilan, dan penjara (bawah tanah).

Image Hosted by ImageShack.us

Ngomingin soal penjara, boleh dibilang ini penjara termasuk yang paling sadis dibuat. 5 unit penjara berdindingn tembok beton, didepannya jeruji besi, dilengkapi bola besi 100 kg seukuran bola voli yg konon diiket di kaki para napi, ruangan nya gelap dan pengap tanpa ventilasi. Ruangan berukuran 8 x 3 meter ini biasanya diisi sampe dengan 80 orang tahanan. Wuiiih… Dulu, sewaktu ada pemberontakan cina di batavia tahun 1740, sekitar 500 orang cina dikurung dsana dengan nasi encer dan air tawar sebagai pengisi perut sembari nunggu hukum gantung satu persatu di alun2 depan museum. sampe2 Dr. F De Haan nulis ttg penjara ini sebagai lorong gelap (donker gat) yang bs bikin merinding tiap orang yg datang. Penjara yang semula ditempati oleh para perampik, maling, dan militer yang disersi di jaman VOC dulu, pernah juga memasukkan Gubernur Jendral Belanda di Srilangka Petrus Vuyst yang bukan dipenjara sebagai narapidana melainkan karena gila.

Again, salah satu bukti ketidaksayangan orang kita sama situs2 bersejarah, Patung Keadilan (Dewi Yustitia) yang konon pernah bertengger di puncak atap depan bangunan dengan mata tertutup sambil pegang pedang di tangan kanan dan timbangan di tangan kirinya kini telah lenyap. (Coba ya.. yg maling, ini patung dibalikin… gimana mo pinter lu orang, bisanya cuma nyolong!)

Image Hosted by ImageShack.us

Sejak 24 November 2002, meriam Si Jagur peninggalan portugis abad ke-16 dipindahkan ke taman museum ini. Tadinya meriam ini terletah di halaman depan museum dan tertutupi jajaran pedagang kaki lima. Si Jagur yang memiliki berat dan panjang badan 3,5 ton dan 3,84 meter dulunya dibuat di Macao, trus dibawa ke Malaka oleh armada Portugis yang saat itu menguasai Malaka, trus dibawa oleh armada Belanda ke Batavia pada tahun 1641. Gara2 bentuknya yang rada porno buat sebagian orang, meriam ini pun akhirnya banyak dianggap sebagai lambang kesuburan. Byk orang yang berziarah tuk cepet2 dapet keturunan (yg kaya gini jangan ditiru deh). Mungkin jg karena disana ada tulisan Ex me ipsa renata sum yang artinya Dari diriku sendiri, aku dilahirkan lagi. Padahal katanya, ini meriam masih utuh, dan belom pernah dipake nembak… (lah, kl masih perawan gini, mana bs dianggep sakti). Si Jagur sang pejantan konon punya pasangan. namanya Setomi yang skr meriam betina ini disimpan di keraton Surakarta (solo). Ngerinya lagi ni ya, ada yg percaya, kl si jantan dan betina ini bersatu, bakan terjadi kiamat! (MasyaAllah!)

Ada lagi ni objek yg bs diliat di Museum Fatahilah, yaitu patung Dewa Hermes yang menurut mitologi Yunani, merupakan dewa keberuntungan, pelindung bagi kaum pedagang, dan juga dewa pengirim berita. Dulu patung ini terletak di perempatan Harmoni dan sempat hilang pada tahun 1999. Tuk yg lalu lalang di sekitar harmoni, kl skr menemukan patung yg sama dsana, tnyata itu merupakan duplikat patung hermes yang emang sengaja dibuat pada tahun 2000. Mengutip tulisan Kompas 7 April 2000, ternyata keberadaan patung ini bermula dari keluarga Ernst Stolz yang menyumbangkan patung ini kepada pemerintah Batavia sebagai tanda terimakasih atas kesempatan yang ia dapatkan untuk berdagang di Hindia Belanda.