61 tahun lalu, sesaat sebelum kemerdekaan Indonesia, tepatnya 10 November 1945, terjadi pertempuran besar2an di Surabaya. Selain setelahnya dibangun Monumen Perjuangan Tugu Pahlawan, kitapun saat ini sering mendengar adanya Hari Pahlawan setiap tanggal 10 November tuk memeringati pahlawan2 yang gugur saat itu. Tugu yang diresmikan tanggal 10 Nopember 1962 dan berada di Taman Kebunrojo bersebrangan dengan kantor Gubenur Jawa Timur di Jl. Pahlawan ini, kini telah menjadi landmark kota Surabaya .

Image Hosted by ImageShack.us

Sebagaimana dirinci oleh beberapa sumber, sebelum pertempuran 10 November terjadi insiden bendera di Hotel Orange/Hoteru Yamato yang skr telah menjadi Hotel Mandarin Majapahit. Saat itu, tepatnya senin 3 September 1945 Residen Soedirman memproklamasikan Pemerintahan RI di Jawa Timur dan disambut dengan aksi pengibaran bendera merah putih di seluruh pelosok Surabaya. Insiden pun dimulai, saat beberapa orang Belanda yang tergabung dalam Komite Kontak Sosial mengibarkan bendera Belanda pada tiang bendera sebelah utara gapura Hotel Yamato (19 Sepetember 1945). Bendera Belanda yang saat itu dikibarkan dinilai merupakan sebuah kesombonga dan lambang ditegakkannya kembali kekuasaan pemerintah Belanda sehingga menimbulkan kemarahan masyarakat Surabaya. Resimen Soedirman mendatangi Hotel Yamato dan memerintahkan sekutu untuk menurunkan benderanya namun hal tersebut tidak tanggapi. Maka terjadilah insiden antara 20 orang sekutu Belanda melawan massa yang berasal dari beberapa tempat di Surabaya. Dalam insiden tsb orang Belanda bernama Mr. Ploegman mati tertusuk, 4 pemuda Surabaya gugur, bendera yang berwarna biru pun dirobek sehingga tinggallah si merah putih berkibar disertai dengan teriakan MERDEKA!

Image Hosted by ImageShack.us

Agak keluar sedikit dari serunya pertempuran di atas, masih di kota Surabaya, dahulu kala di zaman Belanda ada kawasan bernama Handelstraat yang ramai oleh kegiatan perdagangan. Handel berarti perdagangan dan Straat berarti jalan. Jalan sepanjang 750 meter ini kemudian berkembang. Selain sebagai kawasan perdagangan kawasan ini jg dipakai sebagai kawasan prostitusi pada masa pendudukan Jepang yang di’meriah’kan oleh wanita2 keturunan/mirip Jepang. Maka dari itu, seiring dengan kebijakan pemerintah Jepang tuk mengganti nama2 berbau Belanda, kawasan ini pun berubah nama menjadi Kembang Jepun (paham kan ya artinya apa…). Sebagai kawasan pecinan, tempat ini banyak dipengaruhi oleh budaya2 yang datang dari tiongkok. hal ini dibuktikan dari ornamen2 bangunan yang hingga saat ini masih bisa kita liat.

Image Hosted by ImageShack.us

Melihat sejarah yang pernah ditorehkan, Kamar Dagang dan Industri Indonesia Komite Cina (KIKC) pun mencoba tuk kembali membangkitkan situasi khas dari tempat ini dengan membuat kawasan wisata bernama Pusat Kya-Kya. Dalam bahasa Cina-Hokkian, Kya-Kya berarti jalan-jalan. sejak awal Februari 2003, tempat ini pun mulai dikembangkan dan mendapat dukungan dari Pemkot Surabaya. Kini ditempat ini, terutama pada malam hari, kita bs melihat kemeriahan suasana pecinan yang kental dengan lampion2 merah dan orang2 keturunan tionghoa tentunya. mereka banyak memperjualkan makanan2 dari berbagai daerah, seperti makanan china, timur tengah, indonesia, dan barat. hingar bingar musik pun kerap terdengar. so, jangan lupa mampir kesini kl lagi di Surabaya. buat yang mo makan, tanya2 dulu, kan ga semua bisa makan makanan yang non halal :)

About these ads